Puisi Ayah Parut Perang Ayah
Puisi Ayah Parut Perang Ayah

Puisi Ayah Parut Perang Ayah

puisi parut perang ayah yang tersayang menyentuh hati puisi ayah dan ibu Ayah kehilangan doa untuk almarhum perjuangan seorang ayah bekerja keras pantang menyerah selalu mempunyai keinginan terbaik untuk keluarganya

Puisi ayah parut perang Ayah. Sering kali seorang anak mengapresiasikan pengorbanan seorang dalam bentuk puisi seperti puisi ayah tercinta, puisi ayah pendek dan lain sebagainya sebagaman pengertian Ayah adalah orang tua laki-laki dari seorang anak, Ayah merupakan seorang sosok kuat, pantang menyerah selalu mempunyai keinginan memberikan yang terbaik untuk keluarganya.

Aya walau terkadang melakukan tindakan khilaf dengan sedikit melupakan tanggung jawabnya sebagai ayah namun ayah tetaplah ayah, sebagai kepala dalam sebuah keluarga. Ayah seorang sosok penting (hal ini tak melupakan sosok seorang ibu) yang membuat kita hadir menghirup udara di dunia ini dengan seizin yang maha kuasa. Bagaimanapun keadaannya ayah tetap bagian dari diri kita hingga bisa seperti saat ini.

Puisi ayah parut perang ayah kata parut kalo ngga salah, bekas luka, berarti parut perang ayah,  jika di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia mungkin maksudnya bekas luka perang ayah jadi dapat dikatakan puisi ini, puisi ayah yang menyentuh hati. mungkin begitula tentang ayah dan kata parut seperti judul puisi tentang ayah.

Berkaitan dengan kata Ayah, berikut ini, puisi tentang Ayah, karya sahabat kita dari negeri seberang (Malaysia) Muzalifahtul Aini Abd Hamid, Nama penanya Iffa Aini Hamd. Bagaimana cerita dan makna puisi ayah yang di tulis, untuk selengkapnya, yuk kita simak saja berikut ini.

Parut Perang Ayah
Oleh: Muzalifahtul Aini Abd Hamid

Duhai anak
Sedari kamu kecil dalam timangan
Setiap kali terpandang parut di tubuh ayah
Berkali-kali kamu bertanyakan tentangnya
Ribuan kali ayah menjawab
"Ini parut perang ayah,sayang."

Tanpa perlu bercerita panjang
Terpancar pada wajah satu kebanggaan
Matamu hanya terbayang
Kehebatan ayah seorang wira perang

Dengarkan duhai anak
Kini usiamu menginjak dᥱwasa
Sampai waktu kau benar-benar tahu
Sebenar-benar cerita yang belum pernah menyapa telinga
Kerana selama bertahun gugur dedaun masa
Halkum ayah tersengkang peritnya satu penyesalan

Justeru maafkan ayah
Kiranya terbata-bata kata
Cuba meluah apa yang tersimpan lama
Bersama parau suara dan rasa

Duhai anak
Parut perang ayah
Bukan kesan dirodok senjʌta
Namun kerana tertusuk dosa-dosa
Tulah badan celaka

Ketahui ini duhai anak
Ibumu adalah sebutir gemala
Rela melupakan kemilau diri
Demi melangkah masuk ke dunia kelam ayah
Menerima seadanya
Atas segala yang tiada
Kerana tetap di situ adanya syurga

Ayah bawa ibumu
Menumpang teduh sebumbung dengan orang tua
Meneruskan adat pegangan keluarga
Yang letaknya lebih tinggi dari hukum Tuhan
Sedekad menanti kehadiran kamu
Cinta tanpa cahayamata
Sindiran menyisip belati
Mengguris mata menghiris hati
Lalu cinta pudar warna
Tercemar dengan titik-titik cela
Hadir ibumu dikatakan bawa petaka

Mendustakan kudrat iradahNya
Mencabar kehendakNya

Fitnah merambah dunia ibumu
Teroleng-oleng bergayut pada kasih yang tinggal seperdu
Hidup bagai melukut di tepi gantang
Terperuk di balik cahaya
Jatuh lebih hina dari seorang hamba

Dengarkan ini duhai anak
Ayah adalah pejuang yang lari dari perang
Tidak bangun menentang
Menyilang petualang yang datang
Sembunyi dayus seorang suami
Membenarkan tohmah mencabul maruah isteri
Malah ayah melangkah pergi
Membawa amarah dan malu di hati
Meninggalkan ibumu tergantung tidak bertali

Kelana ayah berbumbung murkaNya
Hidup tercabut dari Rahmat
Tersimpang jauh dari berkat
Berjalan dengan hati yang buta
Teraba-raba dalam gelita
Bergelandangan mencari cahaya
Tersungkur mencium kiffarah
Dalam gaung musibah
Tertikam tunggul-tunggul meluka
Tempat ayah melata

Duhai anak
Tatkala ayah minggat
Tika itu doa ibumu diangkat
Tuhan menghadirkan kamu dalam rahimnya
Sepanjang mengandungkan kamu
Ibumu sentiasa berpuasa
Berbuka hanya sekeping doa
Jamah bersulam airmata
Sehari-hari kenyang mengudap derita

Telah ayah katakan tadi
Ibumu tetap sebutir gemala
Simpuh rayu isteri teraniaya
Doanya memencar ke syurga
Berbalik membias ke muka ayah
Jalur cahaya yang menyuluh jalan
Untuk ayah pulang kepangkuan

Duhai anak
Parut perang ayah
Adalah untuk mengingatkan
Wujudnya parut di sebalik selendang ibumu

Moga ia mengingatkan kamu
Untuk tidak pernah mempersiakan
Hati perempuan yang dititip Tuhan
Dakap erat kurniaNya dengan nyawamu
Pimpin tangannya ke pintu syurga
Atau engkarmu mengheret kaki ke neraka...

Iffa Aini Hamd
Sagil. 30.1.2017
----------

Demikianlah puisi parut perang ayah yang tersayang. karya Muzalifahtul Aini Abd Hamid. Simak/baca juga puisi ayah dan ibu yang lain di blog ini, semoga puisi ayah diatas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Saya Hanya orang biasa yang bersemangat mengenal dunia blogger, menyukai rangkaian kata. Tetapi tak terlalu mahir merangkai kata, karena sesungguhnya yang mahir merangkai kata dia seorang penya-